|
Dari aspek seni dan budaya dengan aspek ritualnya dapat dijadikan sarana pelestari budaya, sementara dari aspek olahraga yang lebih bersifat rekreatif dapat memberikan ruang imaginative pengembangan kreativitas penciptaan olah gerak yang sangat dinamis dengan memadukan bentuk dan ukuran serta keselarasan warna-warni. Di beberapa negara, layang-layang digunakan sebagai sarana olah raga air dan es (kite surfing), pantai (buggy kite), gliding, serta gantole. Dari aspek teknologi, kita ketahui bagaimana Benjamin Franklin melakukan percobaan dengan menerbangkan layang-layang di saat hujan, untuk membuktikan bahwa petir bukanlah tenaga supra natural, melainkan listrik sebagai salah satu fenomena alam. Demikian pula bagaimana aliran listrik dapat tersalurkan melalui layang-layang dengan perantaraan besi yang ditanamkan ke dalam tanah (grounding arde) sebagai cikal bakal penangkal petir. Permainan layang-layang tetap popular di tengah kemajuan teknologi, terbukti, bahwa di abad 21 ini di berbagai kesempatan festival layang-layang banyak diikuti oleh peserta dari hampir seluruh negara-negara di belahan bumi ini. Layang-layang, dari yang bentuknya sederhana sampai yang cukup rumit dengan detail yang khas, memiliki nilai guna dan nilai manfaat, baik sebagai sarana hiburan, olahraga, seni dan budaya, ritual dan bahkan kemajuan teknologi dan promosi industri. Dengan latar ini, pendirian Museum Layang-layang sebagaimana digagas oleh pihak swasta yang dengan kemandiriannya mampu berperan aktif untuk melestarikan budaya bangsa ini, patut didukung oleh berbagai pihak. Semoga museum sebagai salah satu wahana dapat lebih mencerdaskan masyarakat melalui berbagai infarmasi dan inspirasi edukatif, serta sebagai point of interest bagi penggemar layang-layang, disamping sebagai objek dan daya tarik wisata bagi wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara dalam rangka persatuan bangsa dan perdamaian dunia. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata |
|